The Sun Gazer – Sang Penatap Matahari

Width : 15 cm, Height : 23 cm, Thick : 3.3 cm, Weight : 600 grams, Content : 454 Pages

Aku Saray …

Aku hanya ingin bercerita tentang Mogayer Gamil Yahya. Mungkin nama yang asing dan terdengar aneh. Nama yang membuat aku melintasi waktu dan masa untuk menunaikan amanah dari moyangnya. Memastikan dia menjemput takdirnya. Dalam sepi, aku adalah temannya. Dalam gundah gulana, aku ada di sisinya. Meskipun dimensinya berbeda denganku, tapi aku selalu ada untuknya. Aku tak terjangkau pandangan matanya, meskipun aku sangat dekat. Karena akulah pengasuh sejatinya.

Mogayer sang penyendiri, yang kadang bersembunyi dalam keramaian, menutup diri dan menghindari cahaya matahari, menemukan pucuk-pucuk cintanya pada wanita-wanita luar biasa. Mereka bagai datang dari dunia lain. Khusus untuk melembutkan hatinya, mengusir kesepiannya, membentuk kepribadiannya dan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Kisah cintanya berliku, unik dan indah, karena datang dari ketulusan. dari mereka, dia belajar tentang kesetiaan, harga diri, empati, kejujuran, keberanian, juga kasih sayang.

Dia yang dulu selalu mengurung diri dalam kegelapan, sekarang adalah sang penatap matahari …

Dan aku Saray … Ini bukan kisah tentang aku.

Untuk para pembaca The Sun Gazer - Sang Penatap Matahari, sosok Saray adalah Qarin atau 'Ainul Mardhiyyah atau Malaikat yang diperuntukkan orang saleh karena selalu menjaga kesucian-Nya?

Sang Penatap Matahari [The Sun Gazer] – Prof. Komaruddin Hidayat

[1/8, 10:50]
Komaruddin Hidayat: Having read, I know better about Mogayer, The Sun Gazer. Great novel with great actor..

[1/8, 11:01]
M.G.Yasni: Salaam Prof. It's an honor to be commented that way by you.

[1/8, 11:07]
Komaruddin Hidayat: Some parts are touchy..immersed in your story and reflect the road map of life.

[1/8, 11:22]
M.G.Yasni: 80% realities of M.G.Y. 20% of his enhanced romance, drama & tragedy.

[1/9, 06:50]
Komaruddin Hidayat: Feeling honored.

[1/9, 08:14]
Komaruddin Hidayat: Ketika saya membaca novel ini, pada saat yang sama saya serasa membaca novel tentang diri saya dengan aktor dan alur cerita yang sedikit berbeda. Namun keduanya memiliki kedekatan. Yaitu sebuah mimpi2 membangun masa depan antara utopia dan realita,  bagaikan mengejar kaki langit yang serasa dekat di depan mata namun tak terjangkau. Sosok Mogayer, sebagaimana sosok pengembara dan pejuang kehidupan lainnya, akan tumbuh menjadi kuat jika bisa mengubah problem jadi guru. Laut yang tenang tak akan melahirkan pelaut yang tangguh. Terbayang sosok Mogayer yg punya determinasi, introvert, namun selalu terlibat hubungan persahabatan dan cinta yang subtle, namun intens dan romantis. Dan itu pasti juga dialami hampir setiap remaja. Komitmen spiritual dan pengembaraan intelektual Mogayer yang masuk usia 40-an membuat novel ini open ended. Mirip film Hollywood, penonton dibuat penasaran dan diskusi setelah keluar dari bioskop, apa kelanjutan pengembaraan Mogayer dalam kehidupan cintanya, karirnya dan mimpi2 untuk mewujudkan mimpinya dan harapan ayahnya, Dr. Zain Yahya.

[1/9, 08:17]
Komaruddin Hidayat: Bagi saya, membaca novel The Sun Gazer ini bagaikan oase di tengah kebisingan yg muncul di panggung politik dan labirin dunia maya yg berliku, kadang pengap, tak tahu ujung pangkalnya.

[1/9, 08:24]
M.G.Yasni: Ma sya Allah, Prof. Jazakallaah khayr. Semoga bisa menginspirasi pembaca2 berikutnya. Aamiin Yaa Rabb.

[1/9, 08:32]
M.G.Yasni: Dr. Zain Yahya adalah qiyas dari Dr. Zainul Yasni ayah dari penulis novel ini M.G.Yasni...

[1/9, 08:33]
Komaruddin Hidayat: I thought so..

[1/9, 08:36]
Komaruddin Hidayat: Terpikir, apa respons isterimu baca novel ini.

[1/9, 08:44]
M.G.Yasni: Ada kok Prof. Di www.sendislami.com yg dulu Asiyah dan yg sekarang Aisyah.

[1/9, 09:47]
Komaruddin Hidayat: Seems unbelievable story. But true..

[1/9, 10:59]
M.G.Yasni: Imaan...is truly believing in something without even seeing it...because you can sense its trustworthy sincerety.