Sang Penatap Matahari [The Sun Gazer] – Prof. Komaruddin Hidayat

[1/8, 10:50]
Komaruddin Hidayat: Having read, I know better about Mogayer, The Sun Gazer. Great novel with great actor..

[1/8, 11:01]
M.G.Yasni: Salaam Prof. It's an honor to be commented that way by you.

[1/8, 11:07]
Komaruddin Hidayat: Some parts are touchy..immersed in your story and reflect the road map of life.

[1/8, 11:22]
M.G.Yasni: 80% realities of M.G.Y. 20% of his enhanced romance, drama & tragedy.

[1/9, 06:50]
Komaruddin Hidayat: Feeling honored.

[1/9, 08:14]
Komaruddin Hidayat: Ketika saya membaca novel ini, pada saat yang sama saya serasa membaca novel tentang diri saya dengan aktor dan alur cerita yang sedikit berbeda. Namun keduanya memiliki kedekatan. Yaitu sebuah mimpi2 membangun masa depan antara utopia dan realita,  bagaikan mengejar kaki langit yang serasa dekat di depan mata namun tak terjangkau. Sosok Mogayer, sebagaimana sosok pengembara dan pejuang kehidupan lainnya, akan tumbuh menjadi kuat jika bisa mengubah problem jadi guru. Laut yang tenang tak akan melahirkan pelaut yang tangguh. Terbayang sosok Mogayer yg punya determinasi, introvert, namun selalu terlibat hubungan persahabatan dan cinta yang subtle, namun intens dan romantis. Dan itu pasti juga dialami hampir setiap remaja. Komitmen spiritual dan pengembaraan intelektual Mogayer yang masuk usia 40-an membuat novel ini open ended. Mirip film Hollywood, penonton dibuat penasaran dan diskusi setelah keluar dari bioskop, apa kelanjutan pengembaraan Mogayer dalam kehidupan cintanya, karirnya dan mimpi2 untuk mewujudkan mimpinya dan harapan ayahnya, Dr. Zain Yahya.

[1/9, 08:17]
Komaruddin Hidayat: Bagi saya, membaca novel The Sun Gazer ini bagaikan oase di tengah kebisingan yg muncul di panggung politik dan labirin dunia maya yg berliku, kadang pengap, tak tahu ujung pangkalnya.

[1/9, 08:24]
M.G.Yasni: Ma sya Allah, Prof. Jazakallaah khayr. Semoga bisa menginspirasi pembaca2 berikutnya. Aamiin Yaa Rabb.

[1/9, 08:32]
M.G.Yasni: Dr. Zain Yahya adalah qiyas dari Dr. Zainul Yasni ayah dari penulis novel ini M.G.Yasni...

[1/9, 08:33]
Komaruddin Hidayat: I thought so..

[1/9, 08:36]
Komaruddin Hidayat: Terpikir, apa respons isterimu baca novel ini.

[1/9, 08:44]
M.G.Yasni: Ada kok Prof. Di www.sendislami.com yg dulu Asiyah dan yg sekarang Aisyah.

[1/9, 09:47]
Komaruddin Hidayat: Seems unbelievable story. But true..

[1/9, 10:59]
M.G.Yasni: Imaan...is truly believing in something without even seeing it...because you can sense its trustworthy sincerety.

Another loyal reader / critic of MGY – Sang Penatap Matahari [The Sun Gazer]


Tak bosan berpesan, walau sesungguhnya alam pikiran sudah mapan, jika saja dia hanya berpikir untuk diri sendiri, maka tak perlu lagi membuang energi untuk membagi..

Tak ragu mengkritisi, cerdas memilih diksi, bahasanya lugas, namun balutannya halus, membuat kita tak merasa terhakimi.

Yang terpenting adalah, dia hanya fokus pada memperbaiki diri, jika ada orang lain yang terwarnai, itu hanya bonus. Dia sibuk melihat kekurangan untuk melakukan perbaikan.

Dia memang terlahir sudah dengan misi mulia, sekaligus dengan beban berat di pundak..

Ketika di-challenge oleh salah satu pejabat di perusahaan tempat dia pernah bekerja dulu, bahwa dia punya potensi melimpah untuk jadi YANG TERBAIK, dia hanya menjawab, "biarlah saya jadi yang unik, bukan yang terbaik" pada akhirnya memang yang unik sudah tak perlu mencari kemenangan lagi, dia sudah menang dengan sendirinya, tanpa mengalahkan..

Mungkin lebih tepat disebut bermental pejuang-pembaharu, daripada sekedar bermental pemenang. Pejuang-pembaharu, sudah menang, tanpa menciptakan pecundang..

Itulah Mogayer Gamil Yahya yang saya baca dari Novel Sun Gazer Penatap Matahari…

Itulah sang penulis, yang berbaik hati membagi sekelumit kisah hidup dan secuplik prinsip2 hidupnya kepada kita.

Seperti Matahari, yang ditatapnya, tak lelah menyinari, memberi walau kemarin sudah menutup senja.

Novel Sang Penatap Matahari, kubawa kau ke sini, seperti ke banyak tempat, untuk introspeksi, sebagai pengingat…

Jazaakallaah, Pak Muhammad Gunawan Yasni.

Meracik Ekonomi Syariah Melalui Novel Cinta

Jumat 07 Des 2018 22:42 WIB
Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko
https://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/18/12/07/pjdiav313-meracik-ekonomi-syariah-melalui-novel-cinta

Novel “Sang Penatap Matahari” ditulis selama tiga tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika sebuah pesan tak bisa disampaikan lewat buku teks keagamaan, maka novel bisa menjadi pilihan. Itulah yang dilakukan oleh M Gunawan Yasni.

Praktisi perbankan dan pasar modal syariah itu telah menelurkan dua buku tentang ekonomi syariah, yakni   Ekonomi dan Keuangan Syariah: Pemahaman dan Penerapan Ringkas (Bilingual), dan Ekonomi Sufistik.

Namun, dia merasa belum puas. Sebagai pakar ekonomi syariah dan dosen terbang di beberapa perguruan tinggi, bertahun-tahun ia merasakan kegelisahan. Tokoh yang menekuni ekonomi syariah sejak tahun 2003, merasa memerlukan cara lain untuk menyampaikan pesan kepada masayarakat tentang pentingnya ekonomi syariah.

“Ekonomi syariah kita jalan di tempat. Tantangan dan kendalanya bukan berasal dari luar, tapi justru dari dalam negeri kita sendiri. Saya ingin menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat dalam bentuk cerita yang mengalir melalui tokoh-tokohnya. Sehingga, tanpa terasa pesan itu sampai kepada masyarakat,” kata Gunawan Yasni dalam perbincangan dengan Republika.co.id di Resto Ahmei, Pejaten Village, Jakarta,  Selasa (4/12).

Untuk menyampaikan pesan itulah, anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) di sejumlah Lembaga Keuangan Syariah (LKS) itu  menulis novel yang berjudul “Sang Penatap Matahari”. Novel setebal 454 halaman itu diterbitkan oleh Mogayer Publishing, September 2018.

“Kalau ditanya mengapa saya menulis novel ini, karena saya ingin menggugah, menyadarkan dan mendorong penghayatan masyarakat tentang ekonomi syariah. Ekonomi syariah itu bagus, tapi ada yang menghambat,” ujarnya.

Gunawan menambahkan, novel ini tidak hanya bicara ekonomi syariah, tapi juga fiqih muamalah lainnya. Termasuk di dalamnya tentang pernikahan (fiqih munakahah).

“Novel ‘Sang Penatap Matahari’  saya kerjakan selama tiga tahun sejak ide hingga terbit jadi buku. Proses penulisan sekitar dua tahun, dan proses editing selama hampir setahun,” tutur alumni Fakultas Ekonomi UI dan  Magister Manajemen Prasetya Mulya.

Diakui oleh Gunawan, tidak mudah menulis novel yang sarat dengan pesan tentang pentingnya ekonomi syariah tersebut. Apalagi ini merupakan novel perdana, sekaligus pengalaman pertama baginya menulis cerita fiksi.

“Saya sangat beruntung mendapatkan editor yang sangat berpengalaman, yakni Dwi Bagus MB. Kami sangat sering berdiskusi aktif mengenai penyelesaian dan penyempurnaan novel tersebut, baik melalui WA maupun pertemuan tatap muka,” papar Gunawan yang juga wakil bendahara Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Dalam novel ini, halaman demi halaman, penulis menyajikan kisah yang hidup dan imajinatif. Semakin mendekati ending, ada letupan-letupan yang mengharu-biru perasaan.

“Untuk pembaca yang sentimental dan melankolis, dipastikan akan berderai-derai air mata membaca bagian-bagian akhir novel ini. Penulis seperti mencurahkan semua perasaan yang menghimpitnya, hingga pembaca diajak “masuk” ke dalam masalah yang sedang dia hadapi,” kata sang editor, Dwi Bagus MB, yang menemani Gunawan dalam sesi wawancara.

Gunawan mengakui, novel ‘Sang Penatap Matahari’ tak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. “Saya sempat tiga kali mengalami hampir mati, namun Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan berikutnya kepada saya untuk menjalani hidup ini. Karena itu, novel ini  sekaligus sebagai motivasi dan muhasabah diri bagi saya,” ungkapnya novelis yang menguasai bahasa Inggris dan Arab.

Novel ‘Sang Penatap Matahari’  diberi “kata pembuka” oleh sosok misterius bernama Saray. Dialah yang kemudian menceritakan siapa Mogayer Gamil Yahya, tokoh utama novel ini (Bukan kebetulan nama penulisnya adalah Mohammad Gunawan Yasni).

Melalui Saray pembaca mengetahui asal-usul Mogayer. Kemudian kisah melompat ke saat Mogayer sudah dewasa dan sudah menikah. Dia mengalami peristiwa tragis, masjid tempat dia memberikan ceramah dibom orang tak dikenal dan dia menjadi salah seorang korbannya. Cerita kemudian berjalan mundur, ke masa Mogayer masih sebagai janin sampai dia dewasa.

Mogayer adalah anak bungsu seorang pegawai negeri yang sangat jujur, Dr. Zain Yahya, yang di kemudian hari menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Yordania. Mogayer tumbuh dalam kesunyian dan kesendirian, karena sering ditinggal oleh kedua orang tuanya yang harus bertugas ke berbagai daerah sebelum akhirnya menjadi Dubes. Untungnya ada “pengasuh gaib” yang selalu menjaganya.

Itulah Saray, yang menjadi penutur cerita dalam novel ini. Kondisi itu kemudian menjadikan Mogayer sebagai pribadi yang introvert dan tidak percaya diri. Dia merasa tidak mempunyai kelebihan apa-apa, hingga tidak layak tampil ke muka publik. Dia menghabiskan waktu dengan membaca buku dan komik serta selalu menghindari sinar matahari. Kakak sulung Mogayer, Yus, tidak ingin melihat Adiknya selalu menyendiri.

Dia terus  memberi motivasi agar kepercayaan diri Mogayer tumbuh. Bahkan Yus memaksa Mogayer berlatih karate dengannya. Rasa percaya diri Mogayer perlahan tumbuh, ketika dia berhasil mengalahkan teman SD-nya yang sering membuat onar di kelas.

Mungkin karena kurang kasih sayang dari Ibu semasa kecil, Mogayer cenderung menemukan semangat hidupnya ketika berdekatan dengan seorang wanita. Di Yordania, dia bertemu dengan Sarah, putri seorang Diplomat Inggris. Dan di Kairo, dia bertemu dengan Magnolia, putri seorang Atase Militer Meksiko. Dua gadis ini menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Juga ketika dia menikah dengan Asiyah yang sekian tahun kemudian dia ceraikan karena dia merasa tidak mampu memberi keturunan.  Mogayer kemudian menikah lagi dengan Aisha, gadis yang siap menjadi istri yang tidak mungkin menjadi ibu. Makanya penulis menyatakan bahwa Mogayer adalah “Ayah dari tak seorang pun”.

Meskipun mengandung pesan ekonomi syariah, novel ini tetap renyah dibaca. Sang penulis memilih aliran novel surealis dan memakai pola flash back. “Hal itu memungkinkan cerita mengalir lancar dan wajar, dan konflik cerita dibangun sejak awal,” kata Dwi Bagus.

Gunawan bersyukur, novel “Sang Penatap Matahari” mendapatkan respons yang sangat baik dari masyarakat. “Alhamdulillah, dalam waktu dua bulan, cetakan pertama sudah hampir habis. Kini, penerbit bersiap-siap untuk mencetak ulang novel tersebut. Semoga cetakan kedua dan seterusnya juga diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat,” tutur  Gunawan.

Novel “Sang Penatap Matahari” menerapkan “open ending” atau akhir cerita yang terbuka. Tak heran, banyak pembaca yang menyakan kepada Gunawan mengenai kelanjutan (sekuel) novel tersebut. “Insya Allah novel ini ada lanjutan atau sekuelnya. Saya dan editor, Dwi Bagus MB, sudah mulai menyiapkan sekuel novel tersebut,” ungkap Gunawan.

Rencananya, kata dia, novel “Sang Penatap Matahari” akan terdiri dari beberapa buku (sekuel). “Target saya, sekuelnya terbit tiap dua tahun sekali,” kata M Gunawan Yasni.

Hingga saat ini, belum banyak ulama dan intelektual Muslim Indonesia yang menulis novel. Dulu kita mengenal Buya Hamka dengan novel/romannya, “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapan Van der Wijck”.

Tahun 2000-an, muncul Habiburrahman El Shirazy, seorang lulusan Al Azhar, Cairo, University, yang  menulis novel-novel Islam  best seller – dan beberapa di angtaranta  sudah difilmkan.  Sebut saja, “Ayat Ayat Cinta 1 dan 2, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Api Tauhid, Bidadari Bermata Bening,” dan “Merindu Baginda Nabi”. Kang Abik – panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy – digelari Hamka Kecil.

Kini, menjelang tahun 2020, datang M Gunawan Yasni, seorang pakar ekonomi syariah, dengan novel ‘Sang Penatap Matahari”. Semoga akan semakin banyak ulama dan intelektual Muslim yang menulis novel, sebagai salah satu jalan menduniakan keindahan syiar ajaran Islam.