KENANGAN BUAT PAPA


(PADA HUT YUS KE 44 DAN PERKAWINAN PAPA & MAMA Ke 45, 14 JULI 1996)

(Untuk batu nisan)
Papa, …
Engkau adalah tugu kegigihan,
Tugu keteguhan dalam derita,
Tugu ketegaran dalam berjuang,
Tugu kejujuran dalam pengabdian pada agama, bangsa dan negara.
Engkaulah yang terbaik yang pernah kami miliki.

Puisi Kehidupan:

DR. H. ZAINUL YASNI, ANAK DESA RANAH MINANG

DR. H. Zainul Yasni, AlmTerlahir di desa kecil – Payakumbuh, di kaki Bukit Barisan.
Dalam lingkungan keluarga petani sederhana, sebagai ibunda.
Dari ayah seorang da’i musafir’ yang menyiarkan Islam.
Telah membentuk pribadimu sebagai muslim yang kuat.
Surau, mesjid dan pesantren tempatmu menempa iman.
Sekolah dengan ‘kreseh pseh’ nya tempatmu menimba ilmu.
Keduanya telah menjadikanmu seorang muslim yang berpikir.
Bahwasanya Kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan diisi.

Berpartisipasi pada pemerintah darurat Republik Indonesia.
Turut Bergerilya pada agresi II – Belanda.
Tanpa mengabaikan sekolah, engkau memimpin perlawanan rakyat.
Walau untuk itu pahamu harus ditembus peluru.
Pundak kirimupun remuk terhantam popor senapan bekas penjajah.

Setelah kedaulatan RI berhasil dipertahankan,
Engkau merantau ke Jakarta, … meneruskan pendidikan lebih tinggi.
Dengan ikatan dinas Tentara Pelajar,
Universitas Indonesia terbuka bagi seorang anak desa dari ranah Minang.
Diselingi kerja sebagai guru SMA,
Sebagai sekretaris pada beberapa pejabat negara dan tokoh masyarakat/Islam,
‘Tuk bertahan hidup sederhana di kota besar.

Setelah menyandang gelar kesarjanaan,
Mengabdikan diri pada dunia pendidikan,
Membantu pemerintah daerah dalam pembangunan dan keamanan daerah,
Pencetus ‘crash program’ Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Mendidik mahasiswa, partisipasi aktif pada pembangunan dan keamanan daerah…..
adalah pengalaman mendasar.
Meluruskan wawasan, menimba ilmu di manca negara,
Bagaikan garam dari pengalaman hidupnya.

Hatta-Yasni 2Meraih jenjang pendidikan tertinggi dengan bimbingan Bung Hatta.
Menuliskan rangkuman pengalaman membangun daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Bercermin pada pengalaman sebab akibat pemberontakan,
Pertentangan umat beragama dengan yang anti Tuhan (Komunis).
Lahirlah suatu keyakinan …
Bahwa dasar dan alat pemersatu agama, bangsa dan negara
Adalah pengertian azas tunggal yaitu Pancasila !

Hijrah ke Jakarta kembali dengan satu bertekad
Membangun pembangunan nasional Orde Baru,
Yang membasmi kaum anti Tuhan dari bumi Indonesia.
Dengan semangat jihad dan bekerja keras
‘Tuk meningkatkan pendidikan dan taraf hidup masyarakat pedesaan
Rintisan hubungan ekonomi dan kebudayaan ke 25 negara Arab,
Merupakan langkah terobosan yang sangat berani.
Berhasil dengan niat baik, dapat dua manfaat satu bonus,
Keuntungan dan pahala, seraya menunaikan rukun Islam kelima,
Seandainya gagalpun tetap dapat satu keuntungan dan satu bonus,
Yaitu pahala, seraya menunaikan rukun Islam kelima.

Didampingi seorang istri bagimu, ibu bagi delapan anak
Wanita yang sabar dan lugu sebagai kembang desa ranah Minang
Berdua berjalan bergandengan tangan mengarungi bahtera hidup
Mengantarkan kedelapan anak-anakmu ke jenjang perguruan tinggi
lahirlah generasi penerusmu yang sigap dan matang,
Termasuk cucu-cucu yang sehat dan soleh.

Ribuan santri telah dihasilkan dari pesantren Darul Salam.
Bukti kepedulianmu untuk pendidikan Islam berwawasan Pancasila dan internasionalisme
Bermula dari wakaf sebidang tanah dan bangunan sederhana,
Sebidang tanah terluas yang engkau miliki.
Insya Allah dapat bermanfaat dan dimanfaatkan untuk masa selanjutnya.

Zainul YasniMelanjutkan sebagai Dubes RI di kerajaan Jordania,
Berhadapan langsung dengan negara Yahudi
Selain tugas rutin membina hubungan bilateral kedua negara
Menahan serangan politik dari komunis di forum Timur Tengah adalah menu harianmu
Terlihat kegigihanmu melaksanakan tugas Abdi Negara,
Walau sebenarnya tubuhmu yang kecil itu sudah lelah.

Sekarang, dalam tidurmu yang abadi.
Tersenyumlah, Papa ….. !
Karena akan ada anak dan cucumu yang mewarisi tekad dan semangatmu,
Cita dan cintamu bagi agama, bangsa dan negara Republik Indonesia.
Tersenyumlah Papa, istirahatlah dengan damai.

Jakarta, 14 Juli 1996
Ananda,

Yusmardi Yasni

KENANGAN BUAT PAPA - Watermark